Kamis, 2009 Juli 16

Terlalu Manis... (untuk dilupakan!)




Putri Muhadi Minansibi (18), tak kuasa menahan gemas menyaksikan empat anak spesialnya belajar multimedia. Walaupun begitu, Putri tetap sabar membimbing keempat anak tersebut sambil sesekali tertawa lepas. “Ini hari pertama mereka. Duh, mereka tuh menggemaskan dan membuat saya ingin tertawa terus. Ada-ada aja tingkahnya. Yang repot kalau mereka lagi pada ‘gak mood, harus ditenangkan dulu,” katanya menggebu.


Muhammad, Rohim, Luki, Rizqita adalah anak-anak spesial yang mendapat kesempatan belajar di kelas multimedia. Mereka memiliki latar belakang ‘spesial’ autis. Kesempatan berinteraksi dengan anak autis, memang membawa pengalaman dan kesan tersendiri. “Membuat saya berkesan dan sulit dilupakan. Selalu ingin kembali dan kembali... Saya juga merasa lebih bersyukur dan bersemangat,” kata seorang relawan lain yang enggan disebut namanya.


Di kelas multimedia, anak-anak spesial diajarkan keterampilan teknik grafis dasar, dengan cara memola bentuk gambar lalu mewarnainya pada media komputer. Tujuannya tidak lain untuk merangsang perkembangan kognitif mereka, terutama dalam hal berimajinasi dan berkreatifitas. Bahkan, dalam beberapa hal, ada sebagian kecil dari mereka yang melebihi kemampuan orang normal.


Rumah Autis patut bersyukur memiliki fasilitas ‘mewah’ ini. Dan, tentunya juga menyampaikan rasa terimakasih kepada Bank Mandiri yang telah membantu mengadakan fasilitas tersebut, sekaligus telah memberikan kesempatan kepada 10 relawan Rumah Autis untuk mengikuti pendidikan dasar multimedia di Hello Motion, rekanan Production House yang ditunjuk Bank Mandiri. Dengan demikian, sebagian relawan yang ditunjuk kini sudah bisa mengabdikan waktunya untuk menjadi instruktur bagi anak-anak spesial Rumah Autis. (PR)

Selasa, 2009 Juli 07

Melejit di Waktu Sempit



Selasa (7/ 07), rapat rutin Rumah Autis diwarnai ‘ketegangan’. Namun bukan tegang karena gontok-gontokan antar peserta rapat, hanya suasana rapat saja yang tiba-tiba menjadi lebih serius.

Keseriusan bermula dari hadirnya Kepala Divisi PR Khoironi, yang pada sesi itu mendapat kesempatan untuk menggelar rapat redaksi. Di tengah waktu yang semakin sempit, wajar jika memang Roni, panggilan akrabnya, merasa harus menyampaikan progress report dari pertemuan rapat redaksi sebelumnya, Sabtu (4/ 07). Tujuannya agar target redaksi bisa segera dicapai.

“Waktu kita sangat sempit. Deadline ditetapkan tanggal 31 Juli. Ini hasil breakdown-nya. Di sini tergambar jelas mulai dari halaman, rubrik, PJ, deadline, dan lainnya. Pekan ini kita sudah mulai aksi. Mohon bantuan teman-teman agar bisa menyukseskan edisi perdana kita ini,” jelasnya dengan mimik serius.

Rapat hari itu dihadiri Pimpinan Rumah Autis Deka Kurniawan dan empat kepala divisi. Selain Khoironi, mereka adalah Kepala Divisi HRD Banu Winarso, Kepala Divisi Pemberdayaan & Fundraising Muslimin Hasyim, Kepala Divisi Pendidikan Anak Spesial Nelwansyah, dan notulen rapat Danu Permana.

Jembatan Pertanggungjawaban

Rumah Autis menjelang Ramadhan, memang sedang memiliki hajat khusus, yakni mempersiapkan majalah Rumah Autis edisi perdana. Majalah ini akan terbit, insyaallah, empat bulan sekali. Dan, momentum Ramadhan menjadi acuan yang sangat tepat untuk meluncurkan edisi perdana tersebut.

Sebelumnya, tahun 2008 Rumah Autis telah membuat majalah edisi khusus tahunan bernama Cerita Cinta Rumah Autis. Sambutannya sangat luar biasa. Selain menjadi perekat silaturahim antar donatur, publik, dan media, majalah yang lebih berfungsi sebagai sarana pertanggungjawaban ini, juga menjadi alat yang efektif untuk memperluas jaringan. Akibatnya, simpati pun berdatangan baik dalam bentuk dukungan materi maupun imateri.

Semoga persiapan edisi perdana ini mendapat kemudahan dari Allah. Walaupun terbelit oleh waktu yang sempit, tim redaksi Rumah Autis tetap berusaha untuk melejit, keluar dan terus beraksi menggapai keberhasilan. (PR)

Sabtu, 2009 Juni 27

Membuktikan Sensasi Gurihnya Lele Lela




Launching Pecel Lele Lela 7 Tendean, makan gratis!

Dua jempol teracung setelah Rizal, karyawan perusahaan Media Monitoring, selesai melahap habis Lele Saus Padang. Bumbu merah menyala yang masih melekat di jarinya, juga tak ketinggalan dihisapnya satu per satu. Mmmh... Rizal pun mengakhiri tugas mencicipi resep lele modern tersebut dengan menyedot Joy Tea dingin. Sendawanya pun terlepas. Wajahnya tampak puas. Makan siang hari itu tak cuma berkesan, tapi sungguh sensasional.


“Yang ini benar-benar beda. Saya sampai lupa ngajak teman-teman. Mereka bilang saya tega, ketika barusan saya beri tahu, he-he-he” singkatnya sambil terkekeh.


Rizal, adalah satu dari ratusan pengunjung dan undangan yang berbaur mengikuti acara launching Pecel Lele Lela Cabang ke-7 di Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu (27/ 06). Acara istimewa yang dihadiri segenap pengurus Rumah Autis, investor, donatur, dan rekan-rekan media tersebut mendapat sambutan yang sangat luar biasa. Isyarat itu ditandai dengan belasan karangan bunga yang berjejer memadati pelataran warung Pecel Lela Lela. Isinya adalah ucapan selamat, di antaranya dari PT Adhimix, Jakarta Enterpreneur Club, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ayam Bakar Mas Mono & Bakso Moncrot, PT Sinar Sosro, Rhoma Irama, Sundoro Group, Purdie Chandra, Bank Mega Syariah, dan lainnya.


Pecel Lele Lela Tendean menjadi khas karena terejawantah dari program yang dimiliki Rumah Autis. Seperti yang dijelaskan Pimpinan Rumah Autis dalam sambutannya, program ini dimaksudkan agar yayasan sosial yang dikelolanya, bisa berjalan di atas kaki sendiri secara bertahap. “Program ini kami istilahkan program sedekah produktif. Wujudnya adalah Pecel Lele Lela ini. Mulai dari pengurus, terapis, termasuk para donatur kami telah kami libatkan. Bahkan, masih ada kemungkinan dana 100 juta rupiah lagi yang disiapkan oleh donatur untuk program sedekah produktif ini. Tapi bertahap, kita mau jalankan yang ini dulu,” urainya antusias di hadapan para undangan


Diresmikan Mas Mono dengan Menceburkan Lele ke Wajan

Acara yang menyediakan makan gratis sejak pukul 12.00—14.00 itu, dihadiri Rangga Umara dan Mas Mono, dua sosok yang dianggap sangat berjasa dalam melesatkan program Rumah Autis ini. Karena mereka menjadi donatur sekaligus investor dari program sedekah produktif Rumah Autis. Keduanya juga mendapat kesempatan untuk memberi sambutan.

“Alasan kenapa saya memilih Rumah Autis, karena mereka adalah perintis kegiatan sosial di bidang autis ini. Sementara saya adalah perintis di bidang kuliner ini. Jadinya klop,” kata Rangga di sela-sela sambutannya.

Sementara Mas Mono, wirausahawan yang lebih senior dan terkenal dengan Ayam Bakar Mas Mono-nya, turut menyemangati program dan usaha ini agar berjalan dengan sukses. Ia juga meresmikan launching ini dengan cara yang unik, yakni dengan menggoreng seekor lele rasa ‘original’. “Saya resmikan lele pertama ini dengan membaca bismillah.” Crasshh, aroma lele ‘modern’ pun bertebaran. Waktu makan telah tiba...! (PR)

Jumat, 2009 Juni 26

Sapa Cinta untuk Yasmin Mujahidah


Keluarga besar Rumah Autis kembali kedatangan anggota keluarga baru, namanya Yasmin Mujahidah. Dia adalah anak kedua dari pasangan Arifin (30) dan Manzilah (30), yang pada 9 Juni lalu terlahir dengan sehat dan normal.


Para pengurus Rumah Autis dari berbagai cabang, turut menyambangi dan menyampaikan rasa bahagia kepada pasangan yang sudah menjadi terapis sejak Rumah Autis berdiri ini. Tak kurang dari pimpinan Rumah Autis Deka Kurniawan, menyampaikan sukacitanya, “Semoga Allah mencurahkan berkah, ya. Kita bahagia sekali, perjuangan Rumah Autis ketambahan pejuang baru,” ujarnya kepada pasangan ini.


Arifin ibarat suami siaga. Dia melakukan persiapan yang matang untuk persalinan anak keduanya. Hingga ketika tiba waktunya, sesaat setelah ia pulang kerja, Arifin bisa mengantar istrinya ke Bidan Tuti Maryani di Perumahan Cileungsi Indah, Bogor.


“Sehabis Maghrib berjamaah, saya antar istri ke bidan. Sesampai di sana, ternyata sudah tidak boleh pulang. Karena sudah pembukaan lima, kata bidan.”


Arifin yang berprofesi sebagai terapis di Sekolah Global Mandiri, Legenda Wisata, Cibubur, ini sempat menghadapi trauma istrinya sebelum melahirkan.


“Yang pertama, trauma karena kejadian almarhum Ibu Latifah (terapis cabang Gunung Putri, red). Tidak lama setelah dia melahirkan, dan kita juga sempat menengoknya, malamnya ia meninggal. Karena persalinannya mengalami pendarahan. Dan yang kedua, teman saya sekerja. Usianya kandungannya sama dengan istri. Dia melahirkan lebih dulu, tapi kemudian anaknya meninggal. Istri sempat syok. Tapi semua bisa dilalui,” urai Arifin yang bergelar sarjana psikologi dari Universitas Islam Negeri.


Sekitar pukul 08.30, Manzilah mengalami kontraksi. Lalu setengah jam kemudian, ia akhirnya dapat melahirkan dengan normal. Berat bayinya 3,7 kg dan panjangnya 52 cm. Sehat, cantik, dan manis; sama seperti kakaknya, Wardah Ulfi Syahidah (3). Manzilah sendiri juga dalam kondisi sehat dan terjaga. Ia tidak mengalami trauma pendarahan.


“Alhamdulillah, Allah telah memudahkan semuanya. Karena saya ikut mengantar dan mendampingi hingga proses persalinannya selesai. Rasanya luar biasa, senang dan bahagia sekali,” (PR)

Senin, 2009 Juni 22

Hari Pertama Pecel Lele Lela: Ratusan Orang Menyerbu dan Menyantap



Alhamdulillah, hari pertama pembukaan Pecel Lele Lela cabang ke-7 di Tendean, Jakarta Selatan, diwarnai dengan syukur dan haru yang menggelora dari segenap pengurus Rumah Autis. Menurut informasi yang disampaikan oleh Kepala Divisi Pemberdayaan Rumah Autis Muslimin Hasyim, sekitar seratus ‘penyantap’ lele aneka rasa andalan Pecel Lele Lela, menyerbu dan memadati gerai makan yang dikemas sangat nyaman dan artistik itu.

“Alhamdulillah, menurut omset yang didapat bisa terlihat berapa pengunjung yang datang. Kalau sampai malam, mungkin bisa bertambah banyak,” ujarnya menerangkan. Menurutnya, beberapa figur selebriti yang tak dikenalnya juga mampir siang itu. “Saya mungkin kenal wajah, tapi tidak terlalu kenal nama,” tambahnya sambil tertawa.

Pecel Lele Lela merupakan unit kelola pemberdayaan milik Rumah Autis bersama para donaturnya. Sementara labelnya, dimiliki oleh Rangga Umara, pengusaha muda yang bertekad mengorbitkan ikon lele ke pentas dunia. Berkat keuletan dan cerdas membaca pasar, panganan asli nenek moyang ini bisa ‘naik kelas’. Lele di tangan rangga bisa sekelas steak, teriyaki, sushi, atau panganan modern lainnya.

Lokasi Pecel Lele Lela Tendean dikenal sangat strategis. Letaknya hanya beberapa meter saja dari Bank Mega dan Transcorp Tower, di mana terletak salah satu grup stasiun televisi swasta terkemuka, yaitu Trans TV dan Trans 7. Belum lagi ditambah dengan karyawan dari perkantoran sekitar. Maka, bisa dibayangkan potensi pengunjung yang akan datang. Sebab siapa sih yang tak penasaran dengan Lele Saus Padang; Lele Saus Tiram; Lele Lada Hitam; Fillet Lele Aneka Rasa; serta aneka menu non-lele lain seperti ayam bakar/ goreng dan tumis-tumisan? Mmh... menu-menu khas yang lezat dan sensasional ini, dijamin bakal membuat mereka ketagihan, insyaallah.

Dengan moto “Selera Bos Harga Anak Kos”, Pecel Lele Lela Tendean yakin dapat berkembang. Terlebih, usaha ini berorientasi pada amal salih semua pihak yang terlibat. Sehingga, jaminan Allah atas usaha ini semakin membuat para pengelolanya yakin, bahwa ini bisa diibaratkan sebagai ‘sumur yang tidak akan pernah kering’. (PR)
 
© free template by Blogspot tutorial