Stasiun televisi berlangganan Sun TV (MNC Group) yang berpusat di Jakarta, pada Kamis (10/12), mengundang Kepala Divisi PAS Rumah Autis Ismunawaroh untuk hadir menjadi narasumber program interaktif Referensiana secara live. Program yang ditujukan bagi kaum perempuan ini membahas masalah kesehatan, gaya hidup, pendidikan, kecantikan, dan lainnya. Alhamdulillah acara berjalan lancar.
Kali ini, acara yang berdurasi sejam sejak pukul 13.00 WIB itu memiliki tema kesehatan. Dan, kesehatan dalam dunia Anak Berkebutuhan Khusus menjadi tema yang berhasil mengundang respons penanya (orangtua) dari beberapa daerah, seperti Madura, Medan, dan Balikpapan.
Pihak Sun TV merasa sangat tertarik dengan dunia ABK ini. Karena itu, Rumah Autis telah menyampaikan kesiapannya untuk menjadi rekanan atau referensi program acara di Sun TV pada masa mendatang. Tujuannya tentu agar informasi seputar penanganan anak spesial dapat diketahui oleh publik tanah air. (PR)
Hanya Cinta yang Membuat Kami Ingin Terus Berkiprah
“Berikanlah kebahagiaan kepada orang-orang yang mencintai kami... kepada ibu guru kami, orangtua kami, dan orang-orang yang mendukung kami hingga hari ini dan seterusnya... semoga di usia yang ke-5 tahun ini Rumah Autis menjadi rumah yang terus mengiringi kemajuan (perkembangan) kami... dan menjadi rumah sahabat-sahabat kami yang membutuhkan di masa mendatang.”
Tutur doa itulah yang mengakhiri syukuran ulang tahun Yayasan CAGAR yang ke-5, pada Rabu (9/ 12). Acara yang sederhana namun kaya rasa ini menghidupkan kami sejenak tentang memori masa silam yang mengharukan. Ya, sungguh mengharukan dan menginspirasi; bahwa saat itu dunia anak spesial telah membuka kesempatan kepada kami untuk andil berperan dan bisa menjadi seperti sekarang ini.
Tanpa terasa, rangkul demi rangkul; kesan demi kesan; dan kiprah demi kiprah, antara kami dengan para seluruh empatisan berlatar donatur, orangtua, relawan, terapis, perusahaan, pemerintah, rekan lembaga, dan seluruh pihak yang membantu dan mengantarkan kami, telah menguatkan langkah dan komitmen kami untuk terus hadir mendampingi dunia anak spesial sampai kapan pun.
Usia ke-5 di Antara Orang-orang Berhati Samudera
Usia ke-5 tahun Yayasan CAGAR begitu menandai perjalanan Rumah Autis sejak awal berkiprah hingga memiliki jaringan di beberapa tempat (7 cabang). Ini tentu dimaknai sebagai sebuah perkembangan yang disikapi penuh rasa syukur, karena di sepanjang perjalanan kami yang penuh warna di dunia spesial ini ternyata ditemani oleh para sahabat yang berhati seluas samudera; orang-orang yang mampu menerima segala macam ujian dan tantangan hingga masih tegar berdiri dalam barisan empati dan menjalin silaturahim dengan Rumah Autis—meskipun beberapa sahabat tak lagi bersama, karena faktor pribadi atau keluarga, termasuk ada pula yang melipatgandakan peran Rumah Autis dengan mendirikan lembaga pemerhati ABK lain di beberapa tempat.
Nasi Kuning yang Menyisakan Kangen
Di antara yang paling berkesan dalam ulang tahun ini adalah ikutnya Sadli, Tetra, dan Nafis membantu menghias nasi kuning. Begitu penasaran dan lugunya mereka turut ‘mencomot’ dan kadang 'melempar' aneka lauk pauk dan lalapan ke atas tampah. Kontan kami membantu sambil sesekali tersenyum bangga dan haru. Sebab nasi tumpeng hiasan anak-anak spesial Rumah Autis Bekasi ini kami maknai sebagai hasil dari kesungguhan dan kerja keras para terapis, guru, relawan, serta dukungan semua pihak kepada Rumah Autis selama 5 tahun.
Pemotongan tumpeng menjadi acara paling ‘sakral’, di mana Ana dan Ari, di antara anak spesial yang kami terapi sejak awal, melakukannya untuk diberikan secara simbolis kepada pengurus Rumah Autis. Jadilah siang yang penuh bahagia itu kami menikmati nasi kuning bersama.
Terimakasih atas segala doa dan dukungan para sahabat sekalian. Semoga perjalanan ke-6 tahun mendatang ini kami semakin konsisten dan bersungguh-sungguh meningkatkan kinerja, pelayanan, dan produktifitas bagi anak-anak berkebutuhan khusus di mana pun mereka berada. Semoga. (PR)
Pada tanggal 4 Agustus 2009 Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI (Ditjen AHU Depkumham RI), melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia dengan nomor AHU-2447.AH.01.04.Tahun.2009, telah mengesahkan status berdirinya Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah.
Keputusan penetapan Pengesahan Akta Pendirian Yayasan CAGAR ini berkat ajuan surat permohonan notaris Edy Priyono, SH dengan nomor 295/ Not/ Jkt/ VII/ 2009 tanggal 09 Juli 2009 perihal permohonan dan diterima tanggal 30 Juli 2009.
Sesuai keputusan yang telah ditetapkan, Yayasan CAGAR (NPWP: 21.099.290.5-432.000) telah berkedudukan di Jalan Al-Husna Nomor 39 A-C, RT 001/ RW 001, Jatikramat, Bekasi, sesuai dengan Akta Nomor 24 tanggal 25 April 2009 yang dibuat oleh Notaris Edi Priyono, SH yang berkedudukan di Jakarta Pusat.
Dengan penetapan legalitas ini, maka Yayasan CAGAR melalui program Rumah Autis diharapkan mampu berbuat lebih baik dan lebih leluasa lagi dalam mengkampanyekan dan mensosialisasikan program-program pendidikan anak spesial dan sosialnya ke tengah masyarakat. Dan, yang terpenting adalah semakin mendapat dukungan dari berbagai pihak terhadap masa depan anak-anak spesial di Rumah Autis maupun di lembaga lainnya.
Turut Andil Mengisi Perubahan
Yayasan CAGAR adalah lembaga yang menaungi aktivitas Rumah Autis. Pada waktu mendatang, rencananya lembaga yang sebelumnya bernama Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK) dan berdiri sejak 9 Desember 2004, ini akan memperluas gerakan sosial-produktifnya ke bidang pendidikan parenting/ keluarga.
Hal ini sesuai dengan misi Yayasan CAGAR yang ingin andil menjawab tantangan perubahan yang dialami generasi bangsa ini. Generasi bangsa yang hidup saat ini adalah agen perubahan yang berhak menentukan masa depan bangsa menjadi lebih baik.
“Gerakan ini dapat melengkapi program kami di dunia anak spesial. Sebab, keberhasilan program Rumah Autis juga membutuhkan dukungan para keluarga penyandang anak spesial. Tetapi gerakan ini juga ditujukan bagi semua keluarga Indonesia,” ujar Ketua Yayasan CAGAR Deka Kurniawan.
Jika program dunia anak spesial mendapat label Rumah Autis, maka program ini rencananya akan diberi label Sekolah Keluarga. Mohon doa dan dukungan para empatisan...:) (PR)
Sambutan pemerhati dunia anak spesial semakin tumbuh dari waktu ke waktu. Ini dibuktikan dengan hadirnya Rumah Autis cabang ke-7 di Karawang Barat pada awal tahun 2010. Sebelumnya, pada bulan Oktober, Rumah Autis Pakuan, yang beralamat di Jl Danau Singkarak Blok E3/ 13-14, Duta Pakuan Indah, Tegalega, Bogor Tengah, juga telah hadir menjadi cabang Rumah Autis ke-6.
Adalah Umi Umar, sang pemrakarsa ide berdirinya Rumah Autis Karawang. Ibu yang kini memiliki anak spesial asuhan Rumah Autis Bekasi, itu mendapat izin menempati rumah sang adik yang rencananya akan digunakan oleh Rumah Autis sampai satu tahun ke depan.
Menurutnya, sudah ada 6 calon anak spesial yang bakal mendapat terapi di Rumah Autis yang berlokasi di Komplek Perumahan Perum Karaba, Blok R 23, RT 05/10, Kelurahan Wadas, Teluk Jambe, Karawang Barat, 41361.
Sementara Kepala Divisi PAS Rumah Autis M. Nelwansyah, saat melakukan survey akhir November lalu, yang ditemani Bendahara Yayasan Cagar Tatin Mulyatin, Kepala Cabang Rumah Autis Bekasi Isti Munawaroh, Staf Bendahara Halilintar, Staf Sekretariat Yayasan Cagar Danu Permana, dan anak spesial kami, Ari, telah mengapresiasi bahwa rumah yang memiliki dua kamar tidur dan satu ruang tamu tersebut sudah representatif untuk menjadi cabang Rumah Autis.
“Sudah memenuhi kriteria. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai. Insyaallah awal tahun 2010. Sekarang masih menjalani tahap observasi. Rencananya, keenam anak tersebut bersama seorang calon terapisnya akan melakukan observasi ke Rumah Autis Bekasi. Tujuannya, supaya mereka lebih mengenal aktivitas Rumah Autis dari dekat,” ujarnya.
Menebar Jala Respons
Jika dikomparasi dengan data tahun 2000, di mana Harian Kompas mencatat, di tahun 1990 pertumbuhan anak autis 1 : 5000, maka di tahun 2000 menjadi 1 : 500. Lalu berapa menjelang dekade ke-3? Tahun 2009 ini sudah mendekati perbandingan 1 : 100 (detikhealth.com). Hal ini ditandai, di antaranya, dengan munculnya anak-anak spesial di setiap sekolah negeri maupun swasta.
Data yang mengejutkan tersebut membuat Rumah Autis—dan tentunya juga lembaga pemerhati dunia anak spesial lain—terus menggenjot kinerja. Sebab angka ini beberapa tahun ke depan akan terus menciut. Bisa jadi di antara anak-anak kita, saudara kita, dan tetangga kita, akan menderitanya. Karena itu, sosialisasi, kerjasama, dan tentunya peningkatan pelayanan, adalah di antara kesungguhan yang kami terus tingkatkan. Hal ini bertujuan untuk menginformasikan eksistensi dunia anak spesial ke ranah publik, untuk selanjutnya diharapkan masyarakat dapat ikut berperan lebih luas. Di antaranya, ya dengan mendukung pertumbuhan cabang-cabang Rumah Autis di seluruh penjuru tanah air ini.
MenurutM. Nelwansyah, Rumah Autis berharap mendapat respons lebih kuat dari masyarakat seluruh penjuru tanah air. Tetapi untuk tahun 2010, Rumah Autis masih baru menargetkan pertumbuhan menjadi 15 cabang.
“Kami selalu merespons postif bagi siapa saja yang ingin membantu peran sosial Rumah Autis. Setidaknya ada 8 cabang lagi yang kami targetkan hadir di tahun 2010 nanti. Itu untuk cabang mana saja. Paling tidak setiap cabang bisa mewakili kota/ kabupaten di seluruh provinsi tanah air,” terang Nelwan, sapaan akrabnya.
Masih menurutnya, pendirian cabang Rumah Autis perlu memenuhi kriteria. Tentunya ini bertujuan agar kegiatan berbasis sosial ini dapat terus eksis, produktif, berkembang, dan memberi manfaat lebih luas. Di antara kriteria yang utama adalah; pertama, di daerah itu terdapat 10—15 anak spesial; kedua, ada tempat yang cukup representatif; ketiga, SDM yang memadai; dan yang terakhir, cukup sumber dana operasional untuk memulai.
Respons Anda akan membantu kerja-kerja kemanusiaan Rumah Autis menjadi lebih bermakna bagi dunia anak spesial. Terimakasih... :-D (PR)
Sengaja menjelang siang itu, Rabu (3/12), kami satu arah menuju Kandank Jurank Doank. Wahana kreatif besutan pelukis, fotografer, pemusik, presenter, sekaliguspegiat sosial Dik Doank itu, memang memesona. Kesan etnik, natural, futuristik, dan satu lagi, unik, membuat kami berempat sempat terwah-wah sekilas; takjub dan simpati.
Suasana sejuk dan asri, meresap akrab saat kami kali pertama menjejakkan kaki.Perasaan itu bertahan hingga kami pulang. Karena itu, alternatif lokasi outing tahun ini belum tergantikan, masih di KJD, Kandank Jurank Doank. Kami memilih lokasi yang terletak di Komplek Pondok Sawah Indah (Alvita) Blok Q No. 14. Ciputat, itu karena pertimbangan jarak dan waktu yang terjangkau; tidak jauh, akses tol langsung, dan sebentar—sekitar 45 menit perjalanan. Maklum, anak-anak kami spesial. Tidak bisa terlalu lama di atas kendaraan.
Kedatangan kami siang itu; Isti Munawaroh, Rokhayati, Halilintar, dan saya, Roni—disambut ramah oleh staf KJD bernama Irma (25), yang sejak tahun 1995 sudah belajar di komunitas KJD. Kami mengutarakan maksud kunjungan tersebut, untuk kemudian kami ditemani olehnya melihat lokasi Outbond KJD. Sepanjang jalan menuju lokasi, kami semakin teratur mengucap syukur...luar biasa menarik, subhanallah.
Outing, Rutinitas Kaya Warna
Outing Sekolah Alkayyisa Rumah Autis tahun ini, pada 17 Desember 2009, menandakan berakhirnya masa evaluasi terapi enam bulanan, periode Juli – Desember 2009. Menurut Isti Munawaroh, Kepala Cabang Rumah Autis Bekasi, acara tersebut selain bermanfaat untuk refreshing juga untuk mendekatkan hubungan anak-anak spesial terhadap alam. “Meskipun anak anak spesial memiliki keterbatasan tetapi kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dan mampu beradaptasi atau bersosialisasi di area luar sekolah.“ Selain itu, tambahnya, acara ini juga bertujuan meningkatkan kemandirian guna memberikan input motorik kasar (Social Interaction).
Was-was, Nyasar, dan Teh Poci... Bikin Rindu!
Tak hanya terkesan dengan KJD, tempat yang dituju. Tetapi beberapa kejadian selama di perjalanan pergi dan pulang, juga menjadi catatan kecil yang membuat kami tersenyum. Di jalan bebas hambatan Lingkar Luar Jakarta arah Pondok Aren Tangerang Selatan, misalnya, kami berempat, sempat kebat-kebit...sebab saya yang mengemudikan mobil sempat lupa mengisi bahan bakar. Jika jantung kami kebat-kebit, maka display bahan bakar di odometer kedap-kedip; kompak seirama. Sementara jarak masih sekitar 10 km lagi—perkiraan ‘asal’ saya, sebab saat itu masih di daerah pintu keluar arah Ciputat-Rempoa. Kebiasaan salah arah, hinggap juga di perjalanan kami. Untung setelah dikonfirmasi kepada pihak KJD, kami berhasil dengan mudah mencapai lokasi; tidak jadi kesasar.
Sementara yang paling berkesan, dan ini masih menjadi pembicaraan di perjalanan pulang dan di yayasan, adalah Teh Poci. Ya, Teh Poci Rumah Makan Joglo Solo yang tak jauh letaknya dari KJD, memang khas dan mantap; legit, manis, dan menyegarkan. Sepulang dari KJD, kami memang sempatmampir makan siang. Diiringi musik keroncong-pop 80’an dan aneka sajian ala Jawa yang murah dan nikmat, dan tentunya Teh Poci, kami serasa di Jawa beneran. Sempurna sudah tugas siang itu. Semoga acara mendatang lebih banyak lagi peristiwa yang unik dan berkesan... dan, lancar! Amin. (PR)
Kami adalah…
Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK), adalah LSM nirlaba yang mengkhidmadkan diri dalam perjuangan membantu terapi bagi anak-anak autis dhuafa serta kampanye dan advokasi gerakan peduli autis.
Lembaga yang berdiri pada tanggal 9 Desember 2004 di hadapan Notaris Edi Priyono (No. 17) ini lahir karena berangkat dari keprihatian terhadap kondisi penanganan autisme di Indonesia yang masih kurang memadai. Belum ada perhatian istimewa dari negara berupa tersedianya payung hukum dan anggaran yang lebih memadai untuk menyediakan dokter ahli, lembaga penelitian, obat-obatan, alat terapi, klinik, terapis, dan pusat terapi yang murah (bahkan gratis), padahal itu merupakan kewajiban negara. Belum lagi sosialisasi dan gerakan penyadaran (kampanye media, penyuluhan, dll) masih sangat minim.