Rabu, 23 Juni 2010

Berbagi Sayang Sedari Kecil

Persahabatan TK Bunayya dan Rumah Autis Tanjung Priok (RA Priok)hari itu, Sabtu (12/06), begitu menyisakan kesan mendalam. Kehadiran 20 anak-anak TK Bunayya beserta para guru, lengkap bersama puluhan paket hadiah berupa alat peraga dan alat tulis untuk RA Priok dan anak-anak spesial, memang menjadi agenda silaturahim yang rutin dilakukan oleh TK Bunayya untuk saling berbagi manfaat. Manfaat tersebut berupa hadiah yang dibeli dari tabungan siswa-siswi TK Bunayya selama setahun. Kali ini, memang giliran RA Priok yang dikunjungi. Alhamdulillah.

Beberapa agenda acara singkat dilakukan dengan riuh ramai penuh gembira bahkan tangis histeris salah satu anak spesial RA Priok. Dimulai dengan saling memperkenalkan diri, berbagi pengalaman tentang program, dan terakhir, berbagi hadiah untuk anak spesial dan RA Priok.
Terimakasih, TK Bunayya!!! Semoga teman-teman semua menjadi anak-anak yang selalu sehat, cerdas, dan sukses.

Senangnya di Tempat Baru

Yang menarik, dari acara tersebut, diadakan di tempat RA Priok yang baru, Jl Ganggeng IV No.15 RT 007/ 01, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakut. Ya, RA Priok memang telah pindah sejak Jumat, 4 Juni lalu, dari kontrakannya yang lama di Komplek PJKA belakang Terminal & Stasiun Tanjung Priok.
Kepindahan itu berkat dukungan salah seorang donatur yang mau mengontrakkan rumah yang cukup luas berlantai II untuk menunjang kegiatan pelayanan RA Priok yang jumlah anaknya terus ‘membludak’, yakni 35 anak dan 3 orang dalam tahap observasi. Dengan jumlah yang ‘segitu’, tentu rumah kontrakan lama yang hanya berukuran 3 petak tidak lagi cukup ideal.

Alhamdulillah, semakin bertambah dukungan orang-orang baik yang ingin mengawal kerja-kerja kemanusiaan di Rumah Autis tercinta. (PR)

Lazis PLN, Terus Menghidupkan Semangat Berbagi

Lazis PLN, lembaga penghimpunan zakat milik PT PLN, mengadakan pertemuan rutin melalui kegiatan Forkomit (forum komunikasi silaturahim mitra Lazis PLN), Kamis (3/6), di kantor Rumah Autis Pusat, Bekasi.

Rumah Autis, yang menjadi giliran menjadi tuan rumah dalam silaturahim ‘keliling’ tersebut, berupaya mengemas acara semaksimal mungkin, dengan menghadirkan narasumber internal Ibu Ismunawaroh (Kadiv PAS Rumah Autis) dan Bapak Deka Kurniawan (Ketua Yayasan CAGAR).

Namun sebelumnya, acara pembukaan diisi oleh sambutan dari Direktur Rumah Autis Bapak Nelwansyah dan perwakilan dari Lazis PLN Bapak Umar. Hadir pula dalam kesempatan itu, Ketua Forkomit Bapak Budi dan Humas Forkomit Bapak Syahroni.

Acara dihadiri oleh 25 orang utusan dari 15 mitra binaan Lazis PLN. Ibu Ismunawaroh, mendapat kesempatan pertama memaparkan seputar kiprah dan profil Rumah Autis cabang dan sekilas informasi tentang autis dan ABK (anak Berkebutuhan Khusus), dengan diselingi beragam pertanyaan dari 4 peserta yang hadir.

Acara diakhiri oleh Bapak Deka Kurniawan yang menyampaikan refleksi menggugah tentang kisah nyata salah satu anak spesial Rumah Autis yang telah tiada. Selanjutnya, usai ditutup doa, acara simbolik penyerahan donasi rutin bulanan juga dilakukan, dengan Bapak Umar dan Bapak Nelwansyah sebagai perwakilan untuk diabadikan melalui foto.

Setelah itu, peserta diajak keliling untuk melihat aktivitas pelayanan di Rumah Autis Bekasi, kemudian dilanjutkan dengan istirahat makan siang dan sholat berjamaah.

Terimakasih Lazis PLN dan sahabat mitra sekalian. Semoga acara ini dapat terus meningkatkan kualitas diri kita untuk terus melayani dan memberdayakan masyarakat yang membutuhkan. Amin. (PR)

Berharganya Hypnoparenting bagi Orangtua dan Terapis ABK

Tiga abad lalu, Ilmu Hipnotis, ditemukan oleh dokter-dokter Eropa untuk membantu dunia kedokteran. Namun, mampukah Hipnotis memenuhi kebutuhan pelayanan terapi Anak-anak Berkebutuhan Khusus?



Komite Orangtua Rumah Autis Bekasi menggelar kegiatan Pelatihan Hypnoparenting bagi Orangtua dan Terapis, pada Sabtu (22/05), di Aula Masjid Al Jabbar, Jatibening Estate, Jati Asih Bekasi.


Hadir pembicara pada hari itu, pakar Hipnosys dari Narapati Center, Bapak Mardigu WP dan Bapak Kirdi Putra. Keduanya merupakan pakar ilmu hipnotis yang sudah malang melintang selama belasan tahun. Mereka tertarik untuk berbagi ilmu dengan dunia anak berkebutuhan khusus. Sebab, di antara manfaat yang bisa diperoleh dari ilmu ini adalah dapat digunakan juga untuk terapi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.


“Di tempat kami, di Narapati Center, ada terapis yang menggunakan teknik Mirror, salah satu teknik hipnotis. Hasilnya, si anak spesial yang tadinya takut sama pasir, akhirnya jadi berani. Berani menggenggam dan bermain pasir,” ujar Kirdi Putra kepada 75 peserta yang hadir.

Hipnotis kini memang menjadi ilmu alternatif dalam mengatasi kebutuhan pelayanan terapi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, menurut Kirdi, prosesnya membutuhkan waktu dan tahap yang lebih panjang jika diterapkan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

Agar efektif, ilmu hipnotis harus didalami dulu oleh orangtua dan terapis. Minimal, mereka dapat memahami dan mempraktikkan bagi diri sendiri. Penerapan hipnotis secara berkala dan konsisten, insyaallah dapat memberikan alternatif pelayanan dalam meningkatkan dan mengembangkan perilaku anak-anak berkebutuhan khusus.

Ilmu Hipnotis bukan magic, tidak menggunakan atau merapal doa tertentu, dan tidak bertentangan dengan agama. Ia murni sains, karena digali dari ilmu kedokteran, terutama yang berhubungan dengan potensi otak dan pikiran manusia.

Ilmu Hipnotis juga dipakai dalam pengembangan diri, olahraga, musik, pendidikan, marketing dan komunikasi.

Bagi orangtua dan terapis di Rumah Autis, pelatihan ini adalah yang pertama kali. Semoga pelatihan ini dapat menambah bekal pengetahuan dan keterampilan dalam membantu kebutuhan pelayanan terhadap Anak-anak Berkebutuhan Khusus. (PR)

Tolak ‘Bala’ dengan Epos

Gunjingan, kejenuhan, dan pikiran/ perasaan negatif adakalanya mengganggu kinerja relawan di Rumah Autis. Epos, Energi Positif, menjadi solusi praktis menolak ‘bala-bala’ itu.



“Siapa namanya?” Tanya Aris, sang Motivator. Suyatno kebingungan menjawabnya. Tiba-tiba dia tak mampu mengingat namanya. Sebab dirinya masih di bawah ‘kendali’ Aris. Matanya pun masih terpejam rapat. Pria yang diamanahi Manajer Cabang Rumah Autis Gunung Putri tersebut memang dalam keadaan tersugesti. Sebuah kemasan motivasi yang memanfaatkan energi positif dari alam bawah sadar, tujuannya; membenahi pola pikir, pola aksi, dan pola konsekuensi seseorang dalam mencapai kesuksesan.

Peristiwa tersebut merupakan bagian dari acara Epos Pagi yang kini rutin diadakan oleh Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah di Rumah Autis Pusat, setiap hari Jumat pagi. Diselingi dengan olahraga kecil dan teriakan yel-yel, acara berdurasi 30 menit tersebut diharapkan menjadi rutinitas pokok yang dapat dijalankan di seluruh cabang Rumah Autis. Tujuan utamanya adalah untuk senantiasa menghidupkan dan meningkatkan semangat positif para relawan dalam menjalani aktivitas rutin di Rumah Autis.


Dan beruntungnya, hari itu, Jumat (21/05), Rumah Autis mendapat kesempatan didatangi Aris Ahmad Jaya, Motivator andal dari Sugesti Power. Penulis sukses buku berjudul Motimorphosis tersebut, secara antusias telah lama merespons setiap gerak langkah Rumah Autis dalam membantu pelayanan terapi dan sekolah ABK terutama dari kalangan kurang mampu. Karenanya, hari itu, di sela-sela kesibukannya mondar-mandir ke luar daerah, dia sengaja datang dan menyampaikan materi motivasinya kepada seluruh relawan (perwakilan cabang) Rumah Autis.


Maka, jadilah Epos Pagi hari itu benar-benar spesial. Usai Epos Pagi di teras Rumah Autis, sekita 40 relawan naik menuju aula lantai 2 kantor Rumah Autis Pusat, untuk mengikuti pembekalan motivasi Aris Ahmad Jaya. Materi berbobot plus diselingi praktik ’sugesti’, diberikan dengan lugas dan santai. Tawa lepas dan sesekali renungan hebat, silih berganti menemani 2 jam perjalanan acara tersebut. Puas rasanya dicurahkan energi positif hari itu. Semoga menjadi bekal istimewa, untuk selalu mendampingi anak-anak istimewa Rumah Autis. Terimakasih Pak Aris, terimakasih teman-teman… terus semangat…! Pos- epos-epos…!(PR)

‘Adu’ Seru, Goreng Pisang VS Panen Jagung…

Bersama mereka kita mengenal dalamnya ketulusan, indahnya kasih sayang, dan kokohnya kepedulian.




Kamis (20/5), terjadi ‘seru-seru’an di Rumah Autis Bekasi. Serunya di lantai atas, anak-anak riuh rendah bolak-balik dapur-kelas, ber-fun cooking ria bersama para guru dengan menggoreng pisang (tepung beras) dan telur dadar. Sementara di halaman teras, teman-teman yang lain asyik masyuk berkebun memanen jagung.

Fun cooking dan berkebun, adalah salah satu program anak sekolah berkebutuhan khusus di Rumah Autis Bekasi. Hari itu, anak-anak diajak terjun langsung mengenal bagaimana memproses makanan yang mereka makan, dan memanen jagung yang dahulu mereka tanam.

Usai goreng-menggoreng, pisang goreng diwadahi di atas beberapa piring plastik, dan langsung dibawa ke kelas. Di dalam kelas berukuran sekitar 3x3 meter tersebut, anak-anak diajak berdoa sebelum menyantap kuliner buatannya. Nyam…!

Sementara di teras bawah, walau panen kali ini gagal lagi, tetap tak membuat wajah anak-anak spesial murung. Ada saja yang membuat mereka ceria dan tidak mau mengeluh. Air yang seharusnya menjadi sarana bersih-bersih dari beloknya tanah, justru dijadikan sarana main oleh beberapa anak spesial. Walaupun begitu, beberapa buah jagung yang nyaris plontos tak berbiji, tetap disimpan oleh mereka sebagai ‘buah’ saat menanam pada beberapa bulan sebelumnya.

Mandiri dan Harus Mandiri…
Anak spesial, anak istimewa, anak berkebutuhan khusus, adalah anak-anak penuh kejutan dan inspirasi… bersama mereka kita mengenal dalamnya ketulusan, indahnya kasih sayang, dan kokohnya kepedulian. Semoga anak-anak spesial kami, bersama dukungan dan empati kita semua, dapat beranjak mandiri di masa mendatang. Amin…J (PR)

67 Tahun Perjalanan Autisme, Misteri yang Belum Terungkap


Teks: Nanan Isman Salman
Majalah Anak Spesial




Temple Grandin adalah seorang pemudi autis. Ia melihat dunia tidak seperti orang kebanyakan. Ia memfoto dunia dalam pikirannya dan mengingat semuanya tanpa berpikir. Grandin menggantikan pola kontak manusia dalam merawat binatang peliharaannya. Lalu ia mengembangkan metode yang manusiawi untuk merawat ternak yang akan dikirim ke rumah jagal.


Keterampilan komunikasinya yang khas itu sering disalah-pahami oleh teman-temannya, orangtuanya, dan guru-gurunya, selama hidupnya. Tapi seiring waktu berlalu, dia menunjukkan pada semuanya, bahwa ia mampu unggul di semua tingkat sekolah. Ia bahkan mampu meraih gelar doktor, sebuah tingkatan akademis tertinggi. Kini, Grandin berhasil mengajar orang-orang yang sering salah dalam memahaminya itu dengan sebuah alur cerita yang penuh pelajaran baru dalam hidup.


Kisah Temple Grandin di atas merupakan sebuah perjalanan yang direkam lewat film tentang hidupnya sendiri. Melalui film itu, orang-orang yang salah dalam memahami diri Grandin yang autis menjadi sadar dan terperangah betapa seorang individu autistik masih mempunyai harapan dan masa depan cerah. Sebagai seorang autis, Grandin ingin membuktikan bahwa ia tetaplah seorang manusia.

Sekilas Sejarah Autisme
Temple Grandin memang bukanlah manusia autis pertama. Ia bukan pula satu-satunya individu autistik yang berhasil mandiri dan berdiri sejajar dengan manusia normal lainnya. Tapi perjalanan hidupnya menjadi penting dalam menyusuri perjalanan sejarah autis. Grandin berhasil mengukir prestasi gemilang dalam hidupnya di tengah berbagai keterbatasan sebagai seorang autis.


Inilah mengapa membicarakan sejarah autis tanpa melihat Temple Grandin bukanlah sebuah upaya yang bijak. Dengan melihat perjalanan hidup Grandin, definisi dan dampak autis seolah tidak lagi angker.


Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” yang berarti sendiri. Hal ini ditujukan pada seseorang yang mempunyai gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya, penyandang autis mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial, baik pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak sebayanya dan sebagainya.

Autisme ditemukan pertama kali oleh seorang ahli kesehatan jiwa bernama Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner menjabarkan tentang 11 pasien kecilnya yang berperilaku aneh yaitu asyik dengan dirinya sendiri, seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.


Kanner menggunakan istilah “autism” yang artinya hidup dalam dunianya sendiri. Kanner berhipotesa bahwa pada anak autis terjadi gangguan metabolisma yang telah dibawa sejak lahir. Namun karena pada masa itu alat-alat kedokteran tidak memungkinkan Kanner melakukan penelitian, maka hipotesanya belum dapat dibuktikan.


Kira-kira setahun kemudian Hans Asperger (1906-1980) menemukan gambaran yang hampir mirip dengan autisme pada remaja dan akhirnya disebut sebagai sindroma Asperger. Beberapa literatur memasukkan sindroma ini ke dalam subkategori autisme, namun masih merupakan perdebatan apakah sindroma ini dapat dimasukkan ke dalam salah satu jenis autisme ataukah merupakan jenis yang berdiri sendiri.


Pada awal perang dunia II seorang Yahudi dari Wina bernama Bruno Bettleheim, mengaku dirinya seorang ahli pendidikan dan psikolog lulusan Wina bahkan ia mengaku sebagai murid dr. Sigmunt Freud di Amerika. Bettleheim dipercaya mengelola sekolah dan asrama untuk anak-anak gangguan kejiwaan.


Menurutnya, anak-anak autis adalah anak-anak yang ditolak keluarga, terutama sang ibu. Pandangan ini sempat menyebar luas. Tapi kemudian dibantah karena ternyata orangtua dari anak autis sangat menyayangi anaknya. Teori Bettleheim ini kemudian ditolak mentah-mentah. Bahkan belakangan Bettleheim meninggal karena bunuh diri. Diketahui pula bahwa Bettleheim bukanlah ahli pendidikan, psikolog, apalagi murid Sigmunt Freud.


Pada tahun 1964, Benhard Remland seorang psikolog dan ayah seorang autis berhipotesa bahwa kelainan susunan saraf pusat mungkin melandasi gejala autisme. Pada tahun 1950, Margareth Bauman dari Departement of Neurology, Harvard Medicene Scholl, dan Erik Courchense dari Departement of Neurosains, University of California, San Diego, menemukan kelainan susunan saraf pusat (SSP) pada beberapa tempat dari anak autis.


Kelainan itu berupa pengecilan Cerebellum (otak kecil) terutama Lobus VI-VII. Lobus VI-VII berisi sel-sel Purkinje, yang memproduksi Neurotransmiter Cerotonin. Pada anak autis, jumlah sel Purkinje sangat kurang, akibatnya produksi Cerotonin berkurang sehingga penyaluran rangsang/informasi antar sel otak kacau.


Selanjutnya ditemukan pula kelainan struktur pada pusat emosi dalam otak (sistem limbik), yang bisa menerangkan kenapa emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu para dokter untuk memberikan terapi yang bekerja pada SSP dan mampu memperbaiki emosi, proses pikir dan perilaku. Hasilnya, anak menjadi lebih mudah bekerja sama sehingga terapi lain dapat berjalan.


Pada tahun 1997, seorang anak autis dapat “sembuh” setelah diberikan sekretin (hormone perangsang pankreas sehingga lancer memproduksi enzim peptidase). Selanjutnya banyak orangtua memburu sekretin untuk anak autisnya, tapi tidak semua berhasil baik. Hal ini menunjukkan bahwa pencetus autisme pada masing-masing anak berbeda-beda.


Pada tahun 1998, seorang dokter ahli pencernaan bernama dr. Andrew Wakefield, yang berkebangsaan Inggris, dengan endoskopi menjumpai peradangan usus pada kebanyakan anak autis, yang disebabkan karena virus campak yang sama dengan virus campak yang disuntikkan melalui vaksinasi MMR. Akibatnya, sejak saat itu banyak orangtua yang menolak imunisasi MMR pada anaknya. Atas hasil penelitiannya, dokter Wakefield dipecat dari Royal College Hospital.


Namun di saat yang hampir bersamaan, beberapa orang di Amerika melakukan riset yang hampir sama dengan Wakefield. Berdasarkan hasil riset tersebut, maka dilakukan juga riset mengenai terapi diet untuk anak autis. Sementara itu dokter Wakefield pindah bekerja sebagai kepala bagian riset di International Child Development Resource Centre di Florida.


Pada tahun 2000, Sallie Bernard, ibu seorang anak autis meneliti vaksin yang memakai Themerosal dan menemukan bahwa gejala anak autis hampir sama dengan gejala keracunan merkuri. Sampai sekarang penelitian tentang autisme terus berkembang seiring dengan makin meningkatnya penemuan anak-anak autis. Berdasarkan Centre of Disease Control and Prevention (CDC), sekarang 1 di antara 166 kelahiran anak di Amerika berada dalam spektrum autisme. Peningkatan kasus ini juga terjadi di Indonesia.

Perkembangan Autisme di Indonesia
Setiap tahun jumlah penderita autis di Indonesia terus mengalami peningkatan. Kementerian Kesehatan (dulu Departemen Kesehatan) mencatat, angka penderita autis di Indonesia tahun 2004 sebanyak 475 ribu penderita. Dan sekarang diperkirakan setiap 1 dari 150 anak yang lahir, menderita autis.


Walaupun autis telah ditemukan sejak tahun 1943, namun penyebab pasti akan gangguan yang menyebabkan seorang anak memiliki kelemahan dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berimajinasi dengan orang lain ini, masih belum diketahui. Terbatasnya informasi soal autis ini membuat banyak orangtua seringkali keliru dalam memahami dan menangani anaknya yang autis.


Sejauh ini banyak disebut soal penyebab timbulnya autis. Mulai dari faktor gaya hidup, polusi udara, narkotika, makanan yang tercemar limbah, misalnya ikan laut, dan sayuran yang masih mengandung pestisida, keracunan logam berat, virus dari vaksin, alergi, dan lain-lain. Namun secara ilmiah medis, belum ada kesepakatan soal penyebab autis ini. Sebagian para ahli menduga adanya faktor genetis, tetapi ini pun belum ada bukti ilmiah yang sahih.


Sementara, gejala autisme yang menyerang Indonesia muncul sekitar tahun 1990. "Gejala ini muncul pada siapa saja, tidak peduli ras, pendidikan maupun golongan ekonomi sosial," kata Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dr. Melly Budhiman saat menjadi pembicara pada seminar tentang autisme di Graha Sucofindo, pertengahan April lalu. Menurutnya, kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang autisme membuat penanganan yang dilakukan tidak maksimal. Padahal autisme membutuhkan penanganan jangka panjang, tidak bisa main instan alias cukup sekali datang.


YAI melihat kurangnya tenaga profesional dalam menangani anak autis di Indonesia menjadi salah satu penyebab penanganan yang tidak maksimal. Hal ini masuk akal, sebab negeri ini baru mempunyai 40 psikiater anak yang khusus menangani masalah autisme. YAI sendiri memandang penting upaya sosialisasi mengenai autisme sehingga masyarakat bisa memahami secara benar informasi dan penanganannya. Serta dapat mengedukasi masyarakat yang belum mengerti autisme, sehingga tidak ada lagi penghinaan, ejekan, maupun pelecehan terhadap para penyandang autis.


Penanganan autisme di Indonesia berjalan lambat, juga karena banyaknya permasalahan lain yang dihadapi. Permasalahan autisme di Indonesia terbilang rumit. Geografi negara kepulauan ini tidak mendukung untuk dapat menjangkau anak-anak autistik di pulau-pulau yang jauh dari pulau Jawa. Masyarakat Indonesia yang multietnis dan multikultur menyebabkan penanganan autisme sangat beragam.


Sementara para profesional yang mengerti autisme selain jumlahnya masih sangat sedikit, juga terkumpul di kota-kota besar di pulau Jawa. Selain itu, biaya terapi yang mahal dan berkepanjangan menjadi tidak terjangkau oleh golongan sosial ekonomi menengah ke bawah. Lebih parah lagi, pendidikan untuk anak autistik belum bisa dilaksanakan dengan baik karena kurangnya kesiapan sekolah-sekolah, dengan guru yang belum terdidik dalam menangani anak berkebutuhan khusus.


Sementara peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Nasional, belum bisa berbuat banyak untuk anak-anak autistik di Indonesia. Kementerian Kesehatan masih terlalu sibuk dalam menangani kasus-kasus yang lebih gawat, yang bisa menyebabkan kematian, seperti flu burung, flu babi, anak-anak yang busung lapar, dan lain sebagainya.


Anak autistik tidak mendapat prioritas oleh karena keadaannya tidak gawat dan autisme tidak menyebabkan kematian. Yang tidak terpikirkan oleh pemerintah adalah bahwa bila mereka tidak ditangani dengan benar maka anak tersebut akan menjadi sosok dewasa yang tidak bisa mandiri dan menghidupi diri sendiri. Ia akan menjadi beban bagi keluarganya maupun pemerintah.


Sementara Kementerian Pendidikan Nasional memang telah mengeluarkan himbauan pada semua sekolah umum untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Namun kesiapan guru-guru untuk memberikan pendidikan masih jauh dari memadai. Mereka masih harus dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai autisme dan bagaimana mereka harus menghadapi anak-anak ini di sekolah. Juga harus mengetahui proses mengajar pada anak berkebutuhan khusus. Ketidaksiapan guru-guru ini menyebabkan sekolah sering menolak untuk menerima anak berkebutuhan khusus.


Sejauh ini, pemerintah baru akan mencanangkan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk penyandang autis. Menurut Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, pemerintah menargetkan 1000 sekolah khusus bagi penyandang autisme pada tahun 2014 dari sekitar 200 sekolah khusus yang ada saat ini.


Dalam penyelenggaraan pendidikan bagi individu autistik, terang Fasli, sekolah tidak hanya dapat mempersiapkan materi yang tepat, tetapi juga siap dalam menjembatani masalah hambatan komunikasi, dan penanganan masalah perilaku yang mungkin saja terjadi di sekolah. Pemerintah bahkan memberikan insentif khusus bagi sekolah umum yang bersedia menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus. "Pendidikan ini dimaksudkan untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah umum bersama teman-teman lainnya yang normal," kata Fasli Jalal dalam acara Expo Peduli Autisme di Graha Sucofindo, pertengahan April lalu.

Penutup
Sejak kemunculannya pada tahun 1943, jumlah individu autistik terus mengalami peningkatan. Padahal berbagai treatment, terapi dan penanganan terus dilakukan. Sejumlah ahli tak henti melakukan penelitian untuk mencari tahu penyebab sesungguhnya autisme. Tapi sampai saat ini, penyebab itu masih belum dapat terjawab.


Berbagai pihak, termasuk juga pemerintah di berbagai negara, telah pula memberikan solusi bagi diminimalisirnya jumlah individu autistik. Tapi jangankan berkurang, pengetahuan masyarakat untuk soal itu pun masih harus terus ditumbuhkan. Kurangnya sosialisasi menjadi penyebab betapa individu autistik masih dianggap “setengah manusia”.


Karena itulah, perjalanan sejarah autis yang telah 67 tahun, sejak Leo Kanner menemukan 11 anak “aneh” terus menyisakan pertanyaan berat bagi para orangtua, para ahli, para peneliti, dan pemerintah. Tapi di balik ketiadaan jawaban untuk mengatasinya, siapa pun masih dapat bernafas lega dengan perjalanan banyak individu autistik yang brilian dan berjalan normal, seperti Temple Grandin. Grandin seolah ingin menyudahi misteri yang belum terungkap itu dengan kecemerlangan yang disuguhkannya. (Dirangkum dari berbagai sumber)


Mengenal Berbagai Terapi Anak Autis

Tak ada penyembuh yang pasti bagi seorang anak autis. Berbagai treatment dan terapi dilakukan hanya untuk menunjukkan pada bagaimana memaksimalkan potensi anak serta membantu anak dan keluarganya agar memiliki kemampuan yang lebih efektif dalam menghadapi gejala-gejala autis.


Selain itu berupaya untuk mengurangi defisit dan kesusahan keluarga berhubungan dengan autisme dan gangguan spektrum autisme (ASD) dan meningkatkan kualitas hidup serta kemandirian fungsional individu autis, terutama anak-anak. Keberhasilan treatment dan terapi turut dipengaruhi oleh berat/ringannya simptom, derajat gangguan bahasa, tingkat keberfungsian intelektual, serta kapan dimulainya pemberian treatment dan terapi tersebut.


Anak autis yang ditangani secara lebih dini cenderung menunjukkan hasil yang lebih baik. Penyandang autis yang memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. Deteksi dini sangat penting dan berpengaruh terhadap prognosis penyandang.


Upaya deteksi dini yang optimal ini memerlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan dokter, baik dokter umum atau dokter anak dalam melakukan screening terhadap penyandang yang dicurigai autis. Baru setelah itu, berbagai treatment dan terapi dijalankan. Sejauh ini berbagai terapi autis, baik yang diakui oleh dunia medis maupun yang masih berdasarkan disiplin ilmu tradisional, dilakukan. Beberapa terapi itu membawa dampak baik, tapi ada pula yang berdampak buruk.


Berikut beberapa terapi tersebut yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Applied Behavioral Analysis (ABA)
Merupakan jenis terapi berdasarkan penelitian dan telah lama dipakai dan didesain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Saat ini terapi ABA termasuk yang paling banyak dipakai di Indonesia.

2. Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistik yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu memakai bicaranya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

3. Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pensil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan ke mulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.

4. Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak di antara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5. Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama di tempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.

6. Terapi Bermain
Meskipun terdengar aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu anak melalui teknik-teknik tertentu.

7. Terapi Perilaku
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka sehingga mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya. Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya.

8. Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya. Kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.

9. Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat. Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar. Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.

10. Terapi Biomedik
Terapi ini dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam Defeat Autism Now. Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, mulai pemeriksaan darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Ternyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

11. Terapi Akupunktur
Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.

12. Terapi Musik
Lewat terapi ini, musik memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara. Musik menggunakan unsur-unsur musik untuk membiarkan anak-anak mengungkapkan perasaan mereka dan berkomunikasi.

13. Terapi Balur
Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya dengan menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.

14. Terapi Anggota Keluarga
Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain.

15. Terapi Lumba-lumba
Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik penderita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelombang sonar (gelombang suara dengan frekuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang, sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.

16. Terapi dengan Hewan
Binatang seperti anjing atau kuda menjadi bagian dasar dari terapi ini. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa terapi yang dibantu binatang dikaitkan dengan perbaikan yang moderat dalam spektrum gejala autis.

17. Packing dalam Kemasan
Anak-anak dibungkus erat hingga satu jam dalam lembaran basah yang telah didinginkan, dengan hanya kepala mereka dibiarkan bebas. Perawatan diulang beberapa kali seminggu, dan dapat berlanjut selama bertahun-tahun. Hal ini dimaksudkan sebagai terapi bagi anak-anak autistik yang merugikan diri mereka sendiri. Dan sebagian besar anak-anak ini tidak bisa bicara. Packing saat ini digunakan di ratusan klinik Perancis. Tetapi tidak ada bukti ilmiah tentang efektivitas pengepakan tersebut. Yang ada justru beberapa keprihatinan tentang risiko yang merugikan kesehatan.

18. Terapi Listrik
Penggunaan terapi kejutan listrik yang dikirimkan ke kulit selama beberapa detik ini untuk mengendalikan tingkah laku dari pasien autistik. Praktek ini kontroversial. Metode dan teori-teorinya disederhanakan dan tidak didukung oleh penelitian yang dirancang dengan hati-hati. (autis.info serta berbagai sumber lain)

Senin, 19 April 2010

Poor treatment of autism blamed on poverty

The Jakarta Post, Jakarta | Mon, 04/12/2010 12:54 PM | National

Poor families with autistic children tend to fail to cater to the children's special needs, drastically reducing the chance of improvement.

"Autistic children need a special diet. Some cannot consume sugar, wheat flour, milk or food coloring, while others cannot break down proteins," said Ismunawaroh, the program head at Rumah Autis, a foundation catering to autistic children, especially those from low-income families.

Rumah Autis provides training and therapy for children with the special condition at low costs.

Dietary problems could lead to autistic children behaving more erratically or more hyperactively than usual, she said.

"Some parents can afford tests to determine whether their autistic children are intolerant to certain substances, and some can provide their children with alternatives. For example, giving them vitamins to substitute for milk," Ismunawaroh told The Jakarta Post via telephone on Saturday.

She added that parents should increase their knowledge by reading up on nutritions or consulting with doctors.

However, some parents cannot afford tests and food substitutes. These parents also don't have the knowledge needed to maintain their children's special diets, Ismunawaroh went on.

"Some parents bring their children to us at a very late stage, when the children are already 8 years old, for example," she said.

The ideal period for detecting specific conditions is below 2 years old, she added. "The golden age for development is 2 to 5 years old. They respond to therapy faster than the older kids," she said.

Autistic children can usually be identified by their unique behavior, such as repetitive movements, hyperactivity or attachment to certain objects.

"They usually have trouble communicating. They seem to be ignorant of their surroundings," Ismunawaroh said. A single cause of autism has not been identified. There are multiple causes, such as lead poisoning, pollution, food and genetic factors, Ismunawaroh said.

Khoironi from the foundation's communication division said there were currently no precise data on the number of Indonesians with autism.

He added, however, that the number of children participating in Rumah Autis' therapy sessions had increased since the foundation was established in 2004.

"Currently there are 162 children registered in seven branches. Last year, there were 130," Khoironi said.

Rumah Autis has seven centers in Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok, Jakarta and Karawang.

The foundation is currently seeking funds to publish booklets on autism, which will be distributed to health centers and integrated health service centers. (dis)

Sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2010/04/12/poor-treatment-autism-blamed-poverty.html-0

Kamis, 11 Februari 2010

Panen...

Ayo kawan kita bersama
Menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu

Ambil pangkurmu
Kita bekerja tak jemu-jemu...!

Bait di atas mengingatkan kita pada lagu berjudul 'Menanam Jagung', karya Ibu Sud, sang pencipta lagu popular anak Indonesia. Dan, pagi itu, Rabu (10/02), lagu tersebut seperti menggambarkan kegiatan anak-anak spesial Rumah Autis yang tergabung dalam program BLK. Mereka di hari yang sangat cerah itu, justru asyik memanen 'kacang kulit' yang sudah sebulan lebih ditanam di area teras Rumah Autis Bekasi, berukuran 1 X 5 meter.

Jagung pernah juga ditanam. Hanya hasilnya belum sesukses memanen kacang. Namanya juga belajar. Terlebih bagi anak spesial, bukan hasil panen yang meski dicapai, tetapi proses pembelajaran mereka ketika mulai mengenal jenis tanaman, lalu menanam hingga memetik hasilnya, adalah rangkaian proses berharga yang sungguh memuaskan kita semua.

Kacang yang sudah dipanen pun dipilah, untuk selanjutnya diolah. Hasilnya, beberapa kilo kacang tersebut direbus. Jadilah kacang rebus 'spesial', lebih spesial dari kacang rebus biasa. Tetapi, jadi semakin spesial jika ditemani kopi pada sore yang berawan itu. Mmh...Terimakasih ya, anak-anak...! (PR)



Rabu, 23 Desember 2009

Bunda-bunda Spesial untuk Anak Spesial (Selamat Hari Ibu)

Semboyan Rumah Autis
Orang tua yang mau menerima dan mengasuh anak special needs-nya dengan baik adalah manusia mulia. Namun lebih mulia orang yang bukan orang tua anak special needs, tapi mau bekerja keras mengurus mereka. Dan dari semua itu, ternyata yang paling mulia adalah orang tua anak special needs, yang selain tetap bekerja keras mengasuh anaknya sendiri, ia juga mau berbagi kepada anak special needs orang lain yang kurang mampu.

Belajar pada Jalu (Memperingati Hari Kepedulian Tuna Grahita 20 Desember 2009)

Jalu yang sedang meniti tali, tetap saja tersenyum walau ada risiko bakal tercebur...

Begitu juga kami di Rumah Autis...tetap tersenyum optimis dan semangat, walau aral melintang pukang selalu menantang...

maka kami selalu belajar, belajar, dan belajar...belajar berbagi peran dengan sesama lembaga pemerhati ABK lain; belajar meniti tali menuju terwujudnya cita-cita membahagiakan anak spesial; dan selalu belajar merangkul dukungan agar tujuan melayani dan memberdayakan dunia anak spesial menjadi lebih baik lagi...

Dan, berbagai aral kami anggap sebagai penghias jungkir balik kami serta seluruh pihak yang terlibat mendukung langkah kami...karena itu, kami ucapkan ribuan terimakasih kepada semua pihak yang akan dan terus bersedia bergandeng tangan dengan kami untuk memuliakan anak-anak spesial...!(PR)

Sabtu, 19 Desember 2009

Di Rumah Ini Kami Bersukacita...:)

Outing Rumah Autis 2009: Cerita Ekspresi Anak Spesial di Akhir Tahun


Maka, Haikal pun bertahan. Wajahnya pucat pasi. Di pucuk jaring laba-laba ia mengempit tali. Erat tanpa bergerak sambil terus berteriak. Sementara di bawah, para guru dan instruktur terus memotivasinya. Singkat cerita, Haikal pun disusul sang instruktur. Tubuh mungilnya melayang perlahan menjejak bumi Kandank Jurank. Sedetik menyentuh tanah, senyumnya merekah. Kontan suasana gerr bergema... Haikal, Haikal...!


Itu Haikal, belum lagi ekspresi Umar, Ari, Jalu, Soraya, Vira, dan 49 anak-anak spesial Rumah Autis lainnya. Sungguh membuat kami gemas dan terus tersenyum. Selama seharian, Kamis (17/12), kami semua bersukacita menjajal kehebatan outbond Kandank Jurank Doank (KJB). Beragam permainan outbond, di antaranya jaring laba-laba, flyingfox, dan perahu kampret, benar-benar menghidupkan ‘pesta’ ekspresi anak-anak Rumah Autis. Ini penting, karena ekspresi tersebut mampu menjadi daya ukur pengamatan, sejauh mana anak-anak spesial mampu merespons dan berinteraksi dengan alam.


PT Telkom Indonesia Kembali Mendukung

Terimakasih kami ucapkan kepada PT Telkom Indonesia yang kembali mendukung dan menjadi sponsor utama outing anak-anak spesial Rumah Autis. Kali ini, anak spesial kami menyudahi petualangannya di wahana outbond KJB. Sebelumnya, outing tahun lalu berlangsung di Taman Buah Mekarsari, Cileungsi. Di taman buah terbesar se-Indonesia ini anak-anak Rumah Autis disatukan dengan alam untuk menanam padi, menangkap ikan, melukis di tatas topi tani, beragam permainan, dll.


Sebagai penyelenggara yang melibatkan 33 anak-anak sekolah khusus, Rumah Autis Bekasi turut menyertakan anak-anak spesial Rumah Autis dari cabang lain; Gunung Putri (3 anak), Tangerang (5 anak), Depok (3 anak), dan Tanjung Priok (5 anak). Sementara untuk cabang Kota Bogor tidak bisa mengikuti karena kendala persiapan.


Acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan dipandu tim KJB, yaitu bermain sambil bernyanyi dan berjoget di tengah lapangan futsal KJB. Setelah selesai, anak-anak yang ditemani guru pendamping beserta para pengurus sekitar 25 orang ini, dijamu makanan ringan. Usai break, acara inti menanti, yakni mengantar anak-anak ke lokasi outbond.


Acara inti ini berlangsung sekitar dua jam. Suasana riuh, gembira, haru, tangis, dan tawa jadi satu. Kami semua bersukacita. Anak-anak kami begitu ekspresif, mereka ada yang heboh, takut, senang, ragu, bahkan diam dan sama sekali tidak ikut. Beberapa ‘insiden’ kecil juga sempat terekam, seperti terjeburnya Imal ke kolam karena di luar jangkauan kontrol. Atau Firman yang hampir-hampir merubuhkan saung karena sikap hiperaktifnya. Memang anak-anak selalu di bawah pengawasan ekstra.


Terimakasih, Dik Doank dan Rekan Media!

Permainan perahu kampret menjadi sarana terakhir yang dimainkan oleh anak-anak berikut para guru pendampingnya. Setelah selesai, anak-anak mandi beramai-ramai di bawah pancuran. Di kala sibuk itulah Dik Doang tiba-tiba muncul. Kami para pengurus yang ada saat itu merasa senang. Setelah menyapa dan menyalami pria ramah itu, kami menyertai Bang Dik, sapaan kami padanya, untuk wawancara bersama tim media dari Rosi Inc. yang dari awal meliput acara tersebut.


Ketika wawancara selesai, Bang Dik meminta Direktur Rumah Autis M. Nelwansyah dan Kadiv Komunikasi-Fundraising Khoironi untuk berbincang. Kesempatan yang sangat jarang dilakukan oleh Bang Dik terhadap tamunya tersebut, kami manfaatkan sebagai sarana memperkuat hubungan silaturahim. Banyak hal yang dibicarakan, termasuk yang penting seputar motivasi dan penghargaan Bang Dik terhadap para pengurus yang terlibat di dunia anak spesial.


“Terus terang dari dalam rumah saya tadi mengamati, bahwa saya harus menghampiri anak-anak ini. Saya seperti terpanggil untuk menyapa. Ini beda sekali. Saya merasa bangga dengan keterlibatan teman-teman di rumah istimewa ini. Teruslah bersama mereka,” ujarnya sambil tersenyum empati memperhatikan anak-anak spesial.


Selain didukung oleh liputan dari tim media Rosi Inc. yang sehari sebelumnya meliput di Rumah Autis, acara tahunan yang mengesankan itu juga diliput oleh tim media dari Sun TV, stasiun TV kabel milik MNC Group. Bahkan, presenter sekaligus reporter Poppy Zeidra Yulistin sempat terkesan dengan anak-anak spesial Rumah Autis.


“Saya hari ini benar-benar terkesan dengan aksi kepolosan mereka. Saya mau deh jadi empatisan. Tolong hubungi saya kalau ada kegiatan seperti ini lagi, ya!” pintanya kepada salah seorang pengurus Rumah Autis yang menemani. (PR)

Hamzah, di Antara Anak Kami yang Menginspirasi

Yang Berharga di Balik Liputan Tim Media Rosi Incorporate


Hamzah (13), adalah sosok ABK penderita autis tingkat kompleks. Beragam gangguan autis diidapnya. Sementara, pernah sebelum dioperasi katarak, wajahnya sempat benjut-benjut karena sering membentur tembok, tiang, pohon, atau apa pun yang ada di depannya ketika berjalan. Bahkan, sebanyak empat buah kacamata yang harus dipakainya, kandas dirusak olehnya. Pascaoperasi, matanya kini menjadi plus 12, setelah sebelumnya plus 17.


Namun Hamzah—serta Anak-anak Berkebutuhan Khusus/ ABK lain, hari ini dan hari-hari seterusnya, adalah sosok yang selalu menginspirasi kami, para relawan, terapis, pengurus, termasuk para sahabatnya di Rumah Autis. Perubahan, menuju proses signifikan, sudah dialaminya sejak bergabung dengan Rumah Autis 2006 silam.

“Hamzah memang tergolong penyandang autis tingkat kompleks. Kami membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengantarkan dia bisa berkembang seperti ini. Tapi terus terang, kami masih perlu waktu atau proses lebih banyak untuk membuat Hamzah lebih baik lagi,” terang Ismunawaroh, Kepala Divisi PAS Rumah Autis.


Empati Media yang Begitu Membantu

Kehadiran anak-anak spesial (ABK) Rumah Autis selalu memunculkan publikasi dari media. Banyak rekan-rekan media yang turut empati mengangkat kisah mereka. Bagi kami, ini adalah panggilan jiwa rekan-rekan jurnalis yang kritis terhadap segala jenis ketidakberdayaan sosial, termasuk untuk urusan ABK ini. Dan, kami berupaya melakukan sosialisasi kepada media secara proporsional; hati-hati dan takut terjebak pada kata ‘eksploitasi’. Sebab kami bertujuan merangkul publik melalui cara natural, tidak mengada-ada dan apa adanya. Harapannya, agar masyarakat memiliki perhatian khusus terhadap kalangan penyandang ABK dari segala lapisan, terutama dari kalangan kurang mampu.


Rosi Incorporate Ikut Berjibaku

Berkat inspirasi dari Hamzah & anak spesial kami yang lain, Rumah Autis akhirnya mendapat kesempatan berharga dikunjungi oleh tim media Rosi Incorporate. Rosi Incorporate sendiri merupakan lembaga profesional berbidang media dan konsultan besutan mantan presenter senior Liputan 6 SCTV Rosiana Silalahi. Pada kesempatan tersebut, Mbak Rosi, begitu kami menyapanya, di hari pertama juga turun ke lapangan menyaksikan peliputan features sosok Hamzah dan anak-anak ABK Rumah Autis.


Melalui serangkaian peliputan selama dua hari, Rabu (16/12)—Kamis (17/12), tim peliput yang terdiri dari reporter kawakan Olivia Rosilia dan juru kamera andalan Andi Patra, serta tim pendukung lainnya, sukses melakukan ‘eksekusi’ pembuatan profil Hamzah dan Rumah Autis.


Hari pertama, Rabu (16/12), liputan difokuskan pada penggarapan profil Hamzah dan Rumah Autis. Pagi-pagi sudah tim Rosi Inc. ngegeruduk ke rumah Hamzah, untuk mengambil sequences Hamzah pulang-pergi, serta saat belajar di Sekolah Khusus Alkayyisa, Rumah Autis Bekasi.


Sementara hari kedua, Kamis (17/12), bertepatan dengan agenda Outing Rumah Autis di Kandank Jurank Doank, Ciputat, tim peliput berhasil mengawal acara sejak kedatangan hingga pulang. Jungkir balik meliput outbond anak-anak spesial benar-benar memeras kepala dan tentunya, fisik Olivia dan Andi. Mungkin beda dari yang biasa; selalu jadi satu antara emosi empati, tawa, bahkan haru. Semoga tugas mereka kali ini menjadi pengalaman yang berkesan. Kami menyaksikan, mereka benar-benar serius dan bekerja keras. Pendapat kami, hanya orang-orang media berjam-terbang tinggilah yang terbiasa melakukannya.


Akan Tayang di SCTV

Menurut Rosiana Silalahi, setelah kami konfirmasi melalui Oliv, panggilan akrab Olivia Rosalia, hasil liputan ini akan tayang di SCTV. Hanya belum bisa ditentukan waktunya.


“Ini akan menjadi program features dengan format semacam talkshow. Cuma waktu tayang belum bisa ditentukan karena proses produksi. Semoga isu tentang autisma ini menjadi tema awal yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat,” singkat Oliv menambahkan.


Rumah Autis merasa sangat berterimakasih sekali atas partisipasi dan kerja keras tim media dari Rosi Inc. Jibaku mereka tentu sangat berarti bagi kami yang terus berupaya menyebarkan isu tentang dunia ABK ke tengah masyarakat luas. Dengan demikian, peran Rumah Autis serta lembaga pemerhati ABK lainnya dapat direspons dan didukung oleh banyak pihak. (PR)

Jumat, 11 Desember 2009

Rumah Autis Bahas Special Needs di Sun TV


Stasiun televisi berlangganan Sun TV (MNC Group) yang berpusat di Jakarta, pada Kamis (10/12), mengundang Kepala Divisi PAS Rumah Autis Ismunawaroh untuk hadir menjadi narasumber program interaktif Referensiana secara live. Program yang ditujukan bagi kaum perempuan ini membahas masalah kesehatan, gaya hidup, pendidikan, kecantikan, dan lainnya. Alhamdulillah acara berjalan lancar.


Kali ini, acara yang berdurasi sejam sejak pukul 13.00 WIB itu memiliki tema kesehatan. Dan, kesehatan dalam dunia Anak Berkebutuhan Khusus menjadi tema yang berhasil mengundang respons penanya (orangtua) dari beberapa daerah, seperti Madura, Medan, dan Balikpapan.


Pihak Sun TV merasa sangat tertarik dengan dunia ABK ini. Karena itu, Rumah Autis telah menyampaikan kesiapannya untuk menjadi rekanan atau referensi program acara di Sun TV pada masa mendatang. Tujuannya tentu agar informasi seputar penanganan anak spesial dapat diketahui oleh publik tanah air. (PR)

Lima Tahun Rumah Autis

Hanya Cinta yang Membuat Kami Ingin Terus Berkiprah


“Berikanlah kebahagiaan kepada orang-orang yang mencintai kami... kepada ibu guru kami, orangtua kami, dan orang-orang yang mendukung kami hingga hari ini dan seterusnya... semoga di usia yang ke-5 tahun ini Rumah Autis menjadi rumah yang terus mengiringi kemajuan (perkembangan) kami... dan menjadi rumah sahabat-sahabat kami yang membutuhkan di masa mendatang.”


Tutur doa itulah yang mengakhiri syukuran ulang tahun Yayasan CAGAR yang ke-5, pada Rabu (9/ 12). Acara yang sederhana namun kaya rasa ini menghidupkan kami sejenak tentang memori masa silam yang mengharukan. Ya, sungguh mengharukan dan menginspirasi; bahwa saat itu dunia anak spesial telah membuka kesempatan kepada kami untuk andil berperan dan bisa menjadi seperti sekarang ini.


Tanpa terasa, rangkul demi rangkul; kesan demi kesan; dan kiprah demi kiprah, antara kami dengan para seluruh empatisan berlatar donatur, orangtua, relawan, terapis, perusahaan, pemerintah, rekan lembaga, dan seluruh pihak yang membantu dan mengantarkan kami, telah menguatkan langkah dan komitmen kami untuk terus hadir mendampingi dunia anak spesial sampai kapan pun.


Usia ke-5 di Antara Orang-orang Berhati Samudera

Usia ke-5 tahun Yayasan CAGAR begitu menandai perjalanan Rumah Autis sejak awal berkiprah hingga memiliki jaringan di beberapa tempat (7 cabang). Ini tentu dimaknai sebagai sebuah perkembangan yang disikapi penuh rasa syukur, karena di sepanjang perjalanan kami yang penuh warna di dunia spesial ini ternyata ditemani oleh para sahabat yang berhati seluas samudera; orang-orang yang mampu menerima segala macam ujian dan tantangan hingga masih tegar berdiri dalam barisan empati dan menjalin silaturahim dengan Rumah Autis—meskipun beberapa sahabat tak lagi bersama, karena faktor pribadi atau keluarga, termasuk ada pula yang melipatgandakan peran Rumah Autis dengan mendirikan lembaga pemerhati ABK lain di beberapa tempat.


Nasi Kuning yang Menyisakan Kangen

Di antara yang paling berkesan dalam ulang tahun ini adalah ikutnya Sadli, Tetra, dan Nafis membantu menghias nasi kuning. Begitu penasaran dan lugunya mereka turut ‘mencomot’ dan kadang 'melempar' aneka lauk pauk dan lalapan ke atas tampah. Kontan kami membantu sambil sesekali tersenyum bangga dan haru. Sebab nasi tumpeng hiasan anak-anak spesial Rumah Autis Bekasi ini kami maknai sebagai hasil dari kesungguhan dan kerja keras para terapis, guru, relawan, serta dukungan semua pihak kepada Rumah Autis selama 5 tahun.


Pemotongan tumpeng menjadi acara paling ‘sakral’, di mana Ana dan Ari, di antara anak spesial yang kami terapi sejak awal, melakukannya untuk diberikan secara simbolis kepada pengurus Rumah Autis. Jadilah siang yang penuh bahagia itu kami menikmati nasi kuning bersama.


Terimakasih atas segala doa dan dukungan para sahabat sekalian. Semoga perjalanan ke-6 tahun mendatang ini kami semakin konsisten dan bersungguh-sungguh meningkatkan kinerja, pelayanan, dan produktifitas bagi anak-anak berkebutuhan khusus di mana pun mereka berada. Semoga. (PR)

Senin, 07 Desember 2009

Depkumham RI Sahkan Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah (CAGAR)

Pada tanggal 4 Agustus 2009 Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI (Ditjen AHU Depkumham RI), melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia dengan nomor AHU-2447.AH.01.04.Tahun.2009, telah mengesahkan status berdirinya Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah.


Keputusan penetapan Pengesahan Akta Pendirian Yayasan CAGAR ini berkat ajuan surat permohonan notaris Edy Priyono, SH dengan nomor 295/ Not/ Jkt/ VII/ 2009 tanggal 09 Juli 2009 perihal permohonan dan diterima tanggal 30 Juli 2009.


Sesuai keputusan yang telah ditetapkan, Yayasan CAGAR (NPWP: 21.099.290.5-432.000) telah berkedudukan di Jalan Al-Husna Nomor 39 A-C, RT 001/ RW 001, Jatikramat, Bekasi, sesuai dengan Akta Nomor 24 tanggal 25 April 2009 yang dibuat oleh Notaris Edi Priyono, SH yang berkedudukan di Jakarta Pusat.


Dengan penetapan legalitas ini, maka Yayasan CAGAR melalui program Rumah Autis diharapkan mampu berbuat lebih baik dan lebih leluasa lagi dalam mengkampanyekan dan mensosialisasikan program-program pendidikan anak spesial dan sosialnya ke tengah masyarakat. Dan, yang terpenting adalah semakin mendapat dukungan dari berbagai pihak terhadap masa depan anak-anak spesial di Rumah Autis maupun di lembaga lainnya.


Turut Andil Mengisi Perubahan

Yayasan CAGAR adalah lembaga yang menaungi aktivitas Rumah Autis. Pada waktu mendatang, rencananya lembaga yang sebelumnya bernama Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK) dan berdiri sejak 9 Desember 2004, ini akan memperluas gerakan sosial-produktifnya ke bidang pendidikan parenting/ keluarga.


Hal ini sesuai dengan misi Yayasan CAGAR yang ingin andil menjawab tantangan perubahan yang dialami generasi bangsa ini. Generasi bangsa yang hidup saat ini adalah agen perubahan yang berhak menentukan masa depan bangsa menjadi lebih baik.


“Gerakan ini dapat melengkapi program kami di dunia anak spesial. Sebab, keberhasilan program Rumah Autis juga membutuhkan dukungan para keluarga penyandang anak spesial. Tetapi gerakan ini juga ditujukan bagi semua keluarga Indonesia,” ujar Ketua Yayasan CAGAR Deka Kurniawan.


Jika program dunia anak spesial mendapat label Rumah Autis, maka program ini rencananya akan diberi label Sekolah Keluarga. Mohon doa dan dukungan para empatisan...:) (PR)

Sabtu, 05 Desember 2009

2010, Rumah Autis Targetkan Jadi 15 Cabang


Menyambut kehadiran Rumah Autis Karawang


Sambutan pemerhati dunia anak spesial semakin tumbuh dari waktu ke waktu. Ini dibuktikan dengan hadirnya Rumah Autis cabang ke-7 di Karawang Barat pada awal tahun 2010. Sebelumnya, pada bulan Oktober, Rumah Autis Pakuan, yang beralamat di Jl Danau Singkarak Blok E3/ 13-14, Duta Pakuan Indah, Tegalega, Bogor Tengah, juga telah hadir menjadi cabang Rumah Autis ke-6.


Adalah Umi Umar, sang pemrakarsa ide berdirinya Rumah Autis Karawang. Ibu yang kini memiliki anak spesial asuhan Rumah Autis Bekasi, itu mendapat izin menempati rumah sang adik yang rencananya akan digunakan oleh Rumah Autis sampai satu tahun ke depan.


Menurutnya, sudah ada 6 calon anak spesial yang bakal mendapat terapi di Rumah Autis yang berlokasi di Komplek Perumahan Perum Karaba, Blok R 23, RT 05/10, Kelurahan Wadas, Teluk Jambe, Karawang Barat, 41361.


Sementara Kepala Divisi PAS Rumah Autis M. Nelwansyah, saat melakukan survey akhir November lalu, yang ditemani Bendahara Yayasan Cagar Tatin Mulyatin, Kepala Cabang Rumah Autis Bekasi Isti Munawaroh, Staf Bendahara Halilintar, Staf Sekretariat Yayasan Cagar Danu Permana, dan anak spesial kami, Ari, telah mengapresiasi bahwa rumah yang memiliki dua kamar tidur dan satu ruang tamu tersebut sudah representatif untuk menjadi cabang Rumah Autis.


“Sudah memenuhi kriteria. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai. Insyaallah awal tahun 2010. Sekarang masih menjalani tahap observasi. Rencananya, keenam anak tersebut bersama seorang calon terapisnya akan melakukan observasi ke Rumah Autis Bekasi. Tujuannya, supaya mereka lebih mengenal aktivitas Rumah Autis dari dekat,” ujarnya.


Menebar Jala Respons

Jika dikomparasi dengan data tahun 2000, di mana Harian Kompas mencatat, di tahun 1990 pertumbuhan anak autis 1 : 5000, maka di tahun 2000 menjadi 1 : 500. Lalu berapa menjelang dekade ke-3? Tahun 2009 ini sudah mendekati perbandingan 1 : 100 (detikhealth.com). Hal ini ditandai, di antaranya, dengan munculnya anak-anak spesial di setiap sekolah negeri maupun swasta.


Data yang mengejutkan tersebut membuat Rumah Autis—dan tentunya juga lembaga pemerhati dunia anak spesial lain—terus menggenjot kinerja. Sebab angka ini beberapa tahun ke depan akan terus menciut. Bisa jadi di antara anak-anak kita, saudara kita, dan tetangga kita, akan menderitanya. Karena itu, sosialisasi, kerjasama, dan tentunya peningkatan pelayanan, adalah di antara kesungguhan yang kami terus tingkatkan. Hal ini bertujuan untuk menginformasikan eksistensi dunia anak spesial ke ranah publik, untuk selanjutnya diharapkan masyarakat dapat ikut berperan lebih luas. Di antaranya, ya dengan mendukung pertumbuhan cabang-cabang Rumah Autis di seluruh penjuru tanah air ini.


Menurut M. Nelwansyah, Rumah Autis berharap mendapat respons lebih kuat dari masyarakat seluruh penjuru tanah air. Tetapi untuk tahun 2010, Rumah Autis masih baru menargetkan pertumbuhan menjadi 15 cabang.

“Kami selalu merespons postif bagi siapa saja yang ingin membantu peran sosial Rumah Autis. Setidaknya ada 8 cabang lagi yang kami targetkan hadir di tahun 2010 nanti. Itu untuk cabang mana saja. Paling tidak setiap cabang bisa mewakili kota/ kabupaten di seluruh provinsi tanah air,” terang Nelwan, sapaan akrabnya.


Masih menurutnya, pendirian cabang Rumah Autis perlu memenuhi kriteria. Tentunya ini bertujuan agar kegiatan berbasis sosial ini dapat terus eksis, produktif, berkembang, dan memberi manfaat lebih luas. Di antara kriteria yang utama adalah; pertama, di daerah itu terdapat 10—15 anak spesial; kedua, ada tempat yang cukup representatif; ketiga, SDM yang memadai; dan yang terakhir, cukup sumber dana operasional untuk memulai.


Respons Anda akan membantu kerja-kerja kemanusiaan Rumah Autis menjadi lebih bermakna bagi dunia anak spesial. Terimakasih... :-D (PR)

 
© free template by Blogspot tutorial